Berbagi Insipirasi : Romantika Hidup, Pengasuhan Buah Hati, Kesehatan dan Dunia Wirausaha
Tantangan terbesar bagi seorang ibu yang mengajarkan keberanian kepada anak-anaknya adalah mengatasi rasa takutnya sendiri. Terlebih jika si ibu pada dasarnya memang penakut.. takut kecoa, tikus, gelap, ketinggian atau bahkan takut sendirian dalam ruangan.
Pentingnya keteladanan bagi anak, membuat seorang ibu harus berusaha sekuat tenaga menghilangkan rasa takut dalam dirinya sendiri.
Misalnya saat si kecil berteriak ketakutan karena ada kecoa..si ibu harus dengan gagah berani menghampiri dan menenangkan si buah hati..”Ade sama kecoa lebih besar mana? Harusnya kecoa itu lo yang takut sama ade”.. walaupun sebenarnya si ibu ketakutan setengah mati dan jijik berhadapan langsung dengan kecoa itu. Memberi contoh cara mengusir kecoa yang efektif bagi si kecil juga membutuhkan daya juang tersendiri.. karena seperti kita ketahui, kecoa itu seperti memiliki radar pendeteksi rasa takut. Dia malah akan menghampiri orang2 yang takut dengannya
Tulisan ini saya peroleh dari milis SMA. Sangat menyentuh dan mengingatkan kita untuk selalu berbagi, membahagiakan orang lain..sepanjang tahun… dan tidak hanya di bulan Ramadhan saja. Terima kasih untuk Panges, yang telah membagi hikmah ini.
Oleh: Tyas Soekanto*
****
Namaku Hamdhan,
Sebelas umurku
Cari aku di kolong jembatan layang di malam hari
Aku suka Ramadhan
Bulan puasa itu
Bebaskan aku dari puasa tak menentu
Terpaksa tak makan karena memang tak ada yang bisa disantap
Tinggal datang ke masjid mushala
Ada makanan enak menanti
Ta’jil katanya, pembuka puasa
****
Aku Tono
Aku suka Ramadhan
Karena majikanku berpuasa dari mengomel, memukuliku
jika aku salah atau lambat kerja
Padahal aku ‘kan sering capek dan juga ingin bermain di sembilan tahunku
****
Bagi sebagian orang, dunia wirausaha merupakan dunia lain yang sangat berbeda dengan dunia kerja keseharian mereka. Tak pernah terbayangkan seperti apa isinya, bahkan tak pernah terpikir akan terjun ke dalamnya. Namun, terkadang keadaan lah yang “memaksa” untuk memasuki dunia lain tersebut. Pemutusan hubungan kerja, tutupnya perusahaan, atau kebutuhan hidup yang terus meningkat menjadi beberapa penyebab. Di sisi lain, ada pula yang dengan alasan untuk persiapan punya usaha jika pensiun nanti, atau bahkan ada juga yang bersiap untuk pensiun dini agar dapat memiliki waktu kerja yang lebih fleksibel. Ibu rumah tangga pun tak ketinggalan membawa buah kreasi dan memasuki dunia wirausaha tersebut.
Perlu bekal yang cukup untuk melakukan petualangan di dunia lain tersebut. Selain persiapan pengetahuan dan masalah teknis lainnya, diperlukan juga persiapan mental dan pola pikir yang benar. Baca Selengkapnya »
Kasihan juga ya nasib anak TK jaman sekarang. Karena bisa baca menjadi salah satu syarat masuk sebagian besar SD saat ini, porsi bermain mereka di TK pun menjadi berkurang. Tak sedikit orang tua yang jadi panik dan membawa anak2 mereka ke tempat les membaca yang saat ini tengah menjamur.
Sebenarnya kita juga tidak harus memaksa anak2 untuk mengikuti les seperti itu,karena pelajaran di sekolah mereka sudah cukup menyita waktu mereka. Lebih baik waktunya dimanfaatkan bersama sang ibu untuk belajar bersama. Biasanya anak2 lebih senang jika ibu yang “mengajar” untuk mereka.
Saat ini, trend gaya hidup sehat mulai digandrungi, terutama oleh masyarakat ibukota. Hal ini antara lain terlihat dari maraknya komunitas bersepeda ke kantor atau adanya program hari minggu pagi tanpa asap kendaraan bermotor di jalan utama ibukota. Pada minggu pagi, jalan thamrin-sudirman disulap jadi arena berbagai olahraga.
Acara hang out bareng rekan kerja sepulang kantor pun telah banyak yang dialihkan menjadi olahraga bareng. Mulai dari badminton, tenis, futsal, fitnes, sampai bowling jadi pilihan para eksmud jakarta.
Jika kita perhatikan acara bersosialisasi-nya anak2 dengan seksama, pasti kita temukan suatu pelajaran bermakna. Salah satunya adalah, betapa hati mereka tulus dan tidak ada dendam diantara mereka. Biasanya dalam permainan, hampir dipastikan selalu ada saja yang dipertengkarkan. Setelah itu, berlarianlah mereka kepada orang tua masing-masing sambil mengadukan pertengkaran yang baru saja dialami. Bahkan ada yang sambil menangis tersedu-sedu..
Tanpa disadari, terkadang kita lah yang menyisipkan “pelajaran” dendam pada mereka. Misalnya dengan mengatakan “ya sudah.. jangan main lagi dengan dia, memang anak itu nakal” atau “nanti bales aja, kalo dia mo pinjem mainan, jangan dikasih ya”. Padahal, apa yang terjadi kemudian… disaat hati para orang tua masih dongkol dan emosi.. para anak2 sudah kembali asyik bermain. Yups, tidak sampai 10 menit, mereka sudah saling memaafkan dan bermain kembali. Yang lebih fatal lagi, banyak orang tua yang akhirnya jadi bermusuhan.. padahal para anak2 tidak saling dendam.