Jika kita perhatikan acara bersosialisasi-nya anak2 dengan seksama, pasti kita temukan suatu pelajaran bermakna. Salah satunya adalah, betapa hati mereka tulus dan tidak ada dendam diantara mereka. Biasanya dalam permainan, hampir dipastikan selalu ada saja yang dipertengkarkan. Setelah itu, berlarianlah mereka kepada orang tua masing-masing sambil mengadukan pertengkaran yang baru saja dialami. Bahkan ada yang sambil menangis tersedu-sedu..

Tanpa disadari, terkadang kita lah yang menyisipkan “pelajaran” dendam pada mereka. Misalnya dengan mengatakan “ya sudah.. jangan main lagi dengan dia, memang anak itu nakal” atau “nanti bales aja, kalo dia mo pinjem mainan, jangan dikasih ya”. Padahal, apa yang terjadi kemudian… disaat hati para orang tua masih dongkol dan emosi.. para anak2 sudah kembali asyik bermain. Yups, tidak sampai 10 menit, mereka sudah saling memaafkan dan bermain kembali. Yang lebih fatal lagi, banyak orang tua yang akhirnya jadi bermusuhan.. padahal para anak2 tidak saling dendam.

Sebagian anak2, bahkan memiliki tingkat ketulusan hati yang lebih dibanding anak2 lainnya. Misalnya saja, pada suatu sore si anak sedih karena tidak boleh mencicipi sedikiiit saja minuman dingin milik temannya saat sedang bermain bersama, kemudian ia pulang ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya. Sang ibu menghibur dengan menunjukkan 1 set minuman dingin lain yang tersimpan di kulkas, dengan harapan si anak tidak bersedih lagi karena ia juga sudah punya minuman dingin walaupun jenis berbeda. Muka si anak langsung berubah menjadi gembira, matanya berbinar-binar, dan senyumnya merekah.. kata2 yang terucap dari mulutnya sangat mengejutkan hati sang ibu. “Ma, boleh ya aku bawa semua.. sekalian buat temen2 yang lagi main” sambil menyebutkan satu per satu teman2nya dan… termasuk temannya yang baru saja membuat dia sedih.

Subhanallah…betapa murninya hati anak2 itu dan jangan sampai kita kotori dengan pelajaran dendam. Betapa malunya hati ini sebagai orang dewasa, yang terlalu mudah sakit hati dengan perkataan dan perbuatan teman sendiri, bahkan terkadang sulit memaafkan kesalahan orang lain. Sungguh suatu pelajaran hidup bermakna dari anak2 kita.