<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Sharing N Caring</title>
	<atom:link href="http://hanarafi.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hanarafi.com</link>
	<description>Berbagi Insipirasi : Romantika Hidup, Pengasuhan Buah Hati, Kesehatan dan Dunia Wirausaha</description>
	<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 06:00:10 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Kecoa? Siapa takut!!</title>
		<link>http://hanarafi.com/2008/10/kecoa-siapa-takut/</link>
		<comments>http://hanarafi.com/2008/10/kecoa-siapa-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 05:47:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pengasuhan Buah Hati]]></category>

		<category><![CDATA[Allah]]></category>

		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>

		<category><![CDATA[berani]]></category>

		<category><![CDATA[buah hati]]></category>

		<category><![CDATA[gelap]]></category>

		<category><![CDATA[ghaib]]></category>

		<category><![CDATA[ibu]]></category>

		<category><![CDATA[kecoa]]></category>

		<category><![CDATA[keteladanan]]></category>

		<category><![CDATA[percaya diri]]></category>

		<category><![CDATA[sendirian]]></category>

		<category><![CDATA[takut]]></category>

		<category><![CDATA[tikus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanarafi.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Tantangan terbesar bagi seorang ibu yang mengajarkan keberanian kepada anak-anaknya adalah mengatasi rasa takutnya sendiri. Terlebih jika si ibu pada dasarnya memang penakut.. takut kecoa, tikus, gelap, ketinggian atau bahkan takut sendirian dalam ruangan.
Pentingnya keteladanan bagi anak, membuat seorang ibu harus berusaha sekuat tenaga menghilangkan rasa takut dalam dirinya sendiri.
Misalnya saat si kecil berteriak ketakutan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Tantangan terbesar bagi seorang ibu yang mengajarkan keberanian kepada anak-anaknya adalah mengatasi rasa takutnya sendiri. Terlebih jika si ibu pada dasarnya memang penakut.. takut kecoa, tikus, gelap, ketinggian atau bahkan takut sendirian dalam ruangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pentingnya keteladanan bagi anak, membuat seorang ibu harus berusaha sekuat tenaga menghilangkan rasa takut dalam dirinya sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Misalnya saat si kecil berteriak ketakutan karena ada kecoa..si ibu harus dengan gagah berani menghampiri dan menenangkan si buah hati..”Ade sama kecoa lebih besar mana? Harusnya kecoa itu lo yang takut sama ade”.. walaupun sebenarnya si ibu ketakutan setengah mati dan jijik berhadapan langsung dengan kecoa itu. Memberi contoh cara mengusir kecoa yang efektif bagi si kecil juga membutuhkan daya juang tersendiri.. karena seperti kita ketahui, kecoa itu seperti memiliki radar pendeteksi rasa takut. Dia malah akan menghampiri orang2 yang takut dengannya <img src='http://hanarafi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p> <span id="more-11"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Dalam gelap atau dalam sepi, ibu juga harus senantiasa mengajarkan anak-anaknya untuk berdoa mohon perlindungan kepada Allah, dan menanamkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna, makhluk ghaib hidup di dunia yang berbeda dari manusia dan tidak akan mengganggu manusia yang senantiasa berlindung kepada Allah..walaupun disaat yang sama ibu sebenarnya sedang menyakinkan dirinya sendiri mengenai hal tersebut.</p>
<p>Ibu yang tampil berani di hadapan anak-anaknya, memberikan pengaruh besar dalam menumbuhkan rasa percaya diri pada anak-anak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Proses penanaman nilai keberanian ini tanpa disadari juga berpengaruh besar buat si ibu. Semakin lama rasa takut pun lambat laun akan lenyap. Si ibu akhirnya juga jadi pemberani yang sebenarnya seperti buah hatinya.. tidak lagi takut gelap, berani sendirian, apalagi kalau cuma kecoa.. siapa takut!!.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanarafi.com/2008/10/kecoa-siapa-takut/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Seandainya cuma ada Ramadhan</title>
		<link>http://hanarafi.com/2008/09/seandainya-cuma-ada-ramadhan/</link>
		<comments>http://hanarafi.com/2008/09/seandainya-cuma-ada-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 07:41:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Romantika Hidup]]></category>

		<category><![CDATA[lebaran]]></category>

		<category><![CDATA[pengemis]]></category>

		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<category><![CDATA[sedekah]]></category>

		<category><![CDATA[zakat]]></category>

		<category><![CDATA[zakat fitrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanarafi.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini saya peroleh dari milis SMA. Sangat menyentuh dan mengingatkan kita untuk selalu berbagi, membahagiakan orang lain..sepanjang tahun&#8230; dan tidak hanya di bulan Ramadhan saja. Terima kasih untuk Panges, yang telah membagi hikmah ini.
Oleh: Tyas Soekanto*
****
Namaku Hamdhan,
Sebelas umurku
Cari aku di kolong jembatan layang di malam hari
Aku suka Ramadhan
Bulan puasa itu
Bebaskan aku dari puasa tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Tulisan ini saya peroleh dari milis SMA. Sangat menyentuh dan mengingatkan kita untuk selalu berbagi, membahagiakan orang lain..sepanjang tahun&#8230; dan tidak hanya di bulan Ramadhan saja. Terima kasih untuk Panges, yang telah membagi hikmah ini.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Oleh: Tyas Soekanto*</strong><br />
****</p>
<p class="MsoNormal">Namaku Hamdhan,</p>
<p class="MsoNormal">Sebelas umurku<br />
Cari aku di kolong jembatan layang di malam hari<br />
Aku suka Ramadhan<br />
Bulan puasa itu<br />
Bebaskan aku dari puasa tak menentu<br />
Terpaksa tak makan karena memang tak ada yang bisa disantap<br />
Tinggal datang ke masjid mushala<br />
Ada makanan enak menanti<br />
Ta&#8217;jil katanya, pembuka puasa<br />
****<br />
Aku Tono<br />
Aku suka Ramadhan</p>
<p class="MsoNormal">Karena majikanku berpuasa dari mengomel, memukuliku<br />
jika aku salah atau lambat kerja<br />
Padahal aku &#8216;kan sering capek dan juga ingin bermain di sembilan tahunku<br />
****</p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-10"></span>Ramadhan?<br />
Aku suka itu<br />
Pundi-pundi berisi penuh<br />
Tak cuma koin receh<br />
Tapi juga uang kertas</p>
<p class="MsoNormal">Yang mereka lemparkan dari balik kaca mobil mewah</p>
<p class="MsoNormal">Saat kusodorkan di lampu merah<br />
Bulan puasa itu membuat tiba-tiba banyak orang baik dan<br />
bersedekah ya?<br />
Jadi ibuku bilang: &#8220;Amir, ada sisa untuk ditabung,<br />
mudah-mudahan kamu bisa sekolah lagi .. &#8221;<br />
****<br />
Suka, aku suka sekali<br />
Ramadhan itu &#8216;kan<br />
Bulan yang orang-orang jadi selalu makan enak untuk berbuka dan sahur<br />
Supaya tak terasa lemas dan lapar<br />
mereka bilang jadi harus ada kolak, es campur, kue-kue, makanan daging</p>
<p class="MsoNormal">Aku Anwar, si pengangkut keranjang belanja di pasar-pasar<br />
enang, berbilang kali mondarmandir mengangkut tumpukan belanja ibu-ibu<br />
&#8220;Sstt, jangan bilang guru ngaji bahwa aku jadi sering batal tak kuat puasa karenanya..&#8221;<br />
Bapakku ndak marah kok, aku &#8216;kan masih kecil, belum baligh<br />
Asal ada uang yang bisa dibawa pulang<br />
Kasihan bapakku lumpuh<br />
Tak bisa cari uang sesudah kecelakaan di pabrik dulu</p>
<p class="MsoNormal">****<br />
Kalau ingin ganti baju<br />
Supaya tak tambal-tambal<br />
Atau penuh lubang<br />
Ya harus tunggu bulan setahun sekali<br />
Bulan apa ya..<br />
Pokoknya yang ada lebarannya itu..<br />
Orang-orang kaya ganti baju<br />
mungkin terlalu sesak lemarinya<br />
Jadi aku dapat sisa<br />
Tapi masih bagus bagus kok<br />
Aku jadi bisa pakai berlapis<br />
Tak terlalu dingin lagi di gubuk kecil terbuat dari kardus-kardus<br />
Benar emak menasehati : ..&#8221;Sabar nduk, Gusti Allah ora sare..&#8221;<br />
Menenangkan rengekanku minta baju karena malu diejek<br />
Ujang si gembel bajunya tembel<br />
****<br />
Kalau ingin sekali-sekali merasakan<br />
Gantian<br />
Orang berpunya mengejar si papa<br />
Mereka yang berada<br />
mengejar pengemis gelandangan (kadang menyingkat memanggil kami Gepeng&#8230;)<br />
Mencari agar ada penerima zakat<br />
Besok lebaran menjelang<br />
Akan batal zakat fitrah sesudah shalat<br />
Ikut saja bersamaku di malam takbiran<br />
Tenang-tenang tiduran di emperan pinggiran jalan<br />
Tergopoh-gopoh mereka datang<br />
Membangunkan kami untuk terima zakat<br />
Lucu, kali ini si empunya butuh orang miskin ..<br />
Ada benarnya juga namaku si Untung&#8230;<br />
kecil-kecil sudah beruntung&#8230;<br />
****<br />
Aku tahu bapakku miskin sekali<br />
Sebagai kuli<br />
Penghasilannya cuma dari angkut barang<br />
Tapi ia tak bolehkan, aku Mamat anaknya, mengemis<br />
Jadi menemani Bapak<br />
Mengambilkan minum dan sesekali pijati punggungnya<br />
Karena di Ramadhan ia banyak sekali angkut<br />
mebel juga kulkas, tivi baru<br />
Nanti kalau ada ceramah di kampung aku mau tanya pak kyai<br />
Apa bulan puasa artinya ganti perabotan ya?<br />
****<br />
Ustadz Husni pernah bilang<br />
Tuhan itu bisa berbuat apa saja<br />
Maha Kuasa<br />
Tuhan juga Pemurah<br />
Mau mendengarkan doa dari siapa saja</p>
<p><span>Termasuk anak jalanan miskin terlantar<br />
Ya Allah,<br />
Hamdan, Amir, Tono, Anwar, Untung, Ujang, Mamat<br />
Doa bersama<br />
Mengemis padaMu<br />
Jadikan cuma ada Ramadhan<br />
Sepanjang tahun…<br />
Amin.<br />
****</span></p>
<p class="MsoNormal">* Tyas Soekanto adalah ibu dari 5 anak, sekarang bekerja sebagai dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, sekaligus mahasiswa S3 IlmuPolitik Pasca Sarjana UI.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanarafi.com/2008/09/seandainya-cuma-ada-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Memasuki dunia lain: dunia wirausaha</title>
		<link>http://hanarafi.com/2008/08/memasuki-dunia-lain-dunia-wirausaha/</link>
		<comments>http://hanarafi.com/2008/08/memasuki-dunia-lain-dunia-wirausaha/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 07:50:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Wirausaha]]></category>

		<category><![CDATA[cara pandang]]></category>

		<category><![CDATA[dunia kerja]]></category>

		<category><![CDATA[internet]]></category>

		<category><![CDATA[internet marketer]]></category>

		<category><![CDATA[keberhasilan]]></category>

		<category><![CDATA[marketer]]></category>

		<category><![CDATA[modal]]></category>

		<category><![CDATA[pola pikir]]></category>

		<category><![CDATA[usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanarafi.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Bagi sebagian orang, dunia wirausaha merupakan dunia lain yang sangat berbeda dengan dunia kerja keseharian mereka. Tak pernah terbayangkan seperti apa isinya, bahkan tak pernah terpikir akan terjun ke dalamnya. Namun, terkadang keadaan lah yang “memaksa” untuk memasuki dunia lain tersebut. Pemutusan hubungan kerja, tutupnya perusahaan, atau kebutuhan hidup yang terus meningkat menjadi beberapa penyebab. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Bagi sebagian orang, dunia wirausaha merupakan dunia lain yang sangat berbeda dengan dunia kerja keseharian mereka. Tak pernah terbayangkan seperti apa isinya, bahkan tak pernah terpikir akan terjun ke dalamnya. Namun, terkadang keadaan lah yang “memaksa” untuk memasuki dunia lain tersebut. Pemutusan hubungan kerja, tutupnya perusahaan, atau kebutuhan hidup yang terus meningkat menjadi beberapa penyebab. Di sisi lain, ada pula yang dengan alasan untuk persiapan punya usaha jika pensiun nanti, atau bahkan ada juga yang bersiap untuk pensiun dini agar dapat memiliki waktu kerja yang lebih fleksibel. Ibu rumah tangga pun tak ketinggalan membawa buah kreasi dan memasuki dunia wirausaha tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Perlu bekal yang cukup untuk melakukan petualangan di dunia lain tersebut. Selain persiapan pengetahuan dan masalah teknis lainnya, diperlukan juga persiapan mental dan pola pikir yang benar. <span id="more-6"></span>Dengan pola pikir yang benar, diharapkan kita bisa bertahan, bersemangat dan tidak mudah putus asa. Berikut ini rangkuman pola pikir (cara pandang) yang harus dimiliki saat memasuki dunia wirausaha, yang saya peroleh dari beberapa sumber:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: "> </span></span><!--[endif]--> Keberhasilan itu butuh proses</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;">Memang benar bahwa banyak pengusaha yang bisa sangat sukses, tapi coba simak saja perjalanan mereka mulai dari merintis usaha hingga saat ini dan sudah berapa tahun mereka menggeluti usaha tersebut. Banyak orang jadi kaya lewat bisnis internet, itu pun kisah nyata… tapi, tanyakan saja sudah berapa lama menekuni dunia itu. Yup.. semua itu butuh proses, tidak cukup 1-2 tahun saja.. Jadi, nikmati saja setiap proses.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: "> </span></span><!--[endif]--> Setiap jenis usaha itu butuh modal</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;">Buanglah jauh-jauh pikiran bisa kaya, bisa sukses tanpa modal. Jangan percaya dengan iklan-iklan yang bombastis tentang kaya tanpa modal, karena memang hal itu mustahil. Lihat saja para internet marketer yang sukses, berapa banyak website yang mereka miliki, biaya untuk beriklan, cari ilmu baru bahkan koneksi internet. Pengusaha yang memilih memiliki lokasi usaha pun, tak sedikit modal usahanya, sewa tempat, izin usaha, membangun kemitraan, dll. Sedikit atau banyak modal yang disediakan tergantung pilihan kita. Menyadari hal tersebut, membuat kita lebih siap dan tidak menyiakan modal yang telah dan akan kita keluarkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: "> </span></span><!--[endif]--> Berwirausaha itu harus punya semangat juang yang tinggi dan tidak boleh cengeng</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;">Disaat baru menikmati pasar yang terbentuk untuk produk kita… eh, suppliernya yang bermasalah.. pusing kan. Atau bahkan, sampai hari ini belum ada satu pun dagangan yang laku..:D. Begitulah, salah satu tantangan yang harus dihadapi. Kalau ingin sukses memang tidak boleh cengeng. Semangat!!</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;">Apalagi kalau baru merintis usaha, harus rela berpeluh keringat di lorong2 pasar grosir, atau berjam-jam di di depan komputer pada malam hari sampai akhirnya terlelap di depan komputer.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;">Seberapa besar usaha yang kita keluarkan, sebesar itu pula lah yang akan kita peroleh (kecuali jika ditakdirkan lain).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; font-family: "> </span></span><!--[endif]--> Rezeki itu sudah ada yang mengatur</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;">Manusia hanya bisa berencana, berusaha dan berdo’a.. selebihnya kita serahkan kepada Allah, sang Maha Pengatur. Apa pun yang kita hadapi dalam berwirausaha, berapa pun hasil yang kita peroleh, itu semua sudah ditetapkan untuk kita. Selalu mensyukuri setiap rezeki yang diperoleh dan sabar atas segala musibah, akan senantiasa menentramkan hati dan menguatkan hati untuk selalu siap melangkah maju.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:  text-align: justify;">Good luck!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: "> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanarafi.com/2008/08/memasuki-dunia-lain-dunia-wirausaha/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar membaca itu seru</title>
		<link>http://hanarafi.com/2008/07/belajar-membaca-itu-seru/</link>
		<comments>http://hanarafi.com/2008/07/belajar-membaca-itu-seru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 06:04:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pengasuhan Buah Hati]]></category>

		<category><![CDATA[belajar baca]]></category>

		<category><![CDATA[konsonan]]></category>

		<category><![CDATA[les membaca]]></category>

		<category><![CDATA[membaca]]></category>

		<category><![CDATA[SD]]></category>

		<category><![CDATA[TK]]></category>

		<category><![CDATA[vokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanarafi.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Kasihan juga ya nasib anak TK jaman sekarang. Karena bisa baca menjadi salah satu syarat masuk sebagian besar SD saat ini, porsi bermain mereka di TK pun menjadi berkurang. Tak sedikit orang tua yang jadi panik dan membawa anak2 mereka ke tempat les membaca yang saat ini tengah menjamur.
Sebenarnya kita juga tidak harus memaksa anak2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Kasihan juga ya nasib anak TK jaman sekarang. Karena bisa baca menjadi salah satu syarat masuk sebagian besar SD saat ini, porsi bermain mereka di TK pun menjadi berkurang. Tak sedikit orang tua yang jadi panik dan membawa anak2 mereka ke tempat les membaca yang saat ini tengah menjamur.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sebenarnya kita juga tidak harus memaksa anak2 untuk mengikuti les seperti itu,karena pelajaran di sekolah mereka sudah cukup menyita waktu mereka. Lebih baik waktunya dimanfaatkan bersama sang ibu untuk belajar bersama. Biasanya anak2 lebih senang jika ibu yang “mengajar” untuk mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span id="more-5"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Waktu yang kita perlu luangkan tiap harinya tidak perlu banyak2, yang penting rutin dan menyenangkan. Berikut ini langkah2 yang mudah2an dapat dimanfaatkan dan membuat belajar membaca jadi lebih seru:</p>
<table id="table1" border="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="29" valign="top">1.</td>
<td>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Mengenalkan huruf alfabet diawali dengan huruf kecil a-z. Pengenalan ini sebaiknya dilakukan dengan bernyanyi.. lagu abc yang terkenal itu loh. Pengenalan ini tidak harus sampai hafal semua huruf, karena akan dilanjutkan dengan tahap berikutnya</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="29">2.</td>
<td>Mengenalkan huruf vokal <strong>a  i  u  e  o</strong>.</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>Kalau 5 huruf ini diusahakan anak2 bisa hafal jika ditunjuk acak.</td>
</tr>
<tr>
<td width="29">3.</td>
<td>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Mengenalkan suku kata. Mulailah dengan 3 huruf konsonan terlebih dulu, yaitu huruf b, c, dan d:</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="29" height="25"> </td>
<td height="25">ba    bi     bu     be     bo</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>ca    ci      cu     ce     co</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>da    di     du     de     do</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Tips: </strong>sebenarnya metode ini telah banyak ditulis dalam buku-buku belajar membaca. Namun sebagian anak-anak, sudah merasa ngeri duluan melihat buku yang berisi banyak tulisan. Jadi, sebaiknya sejak awal pengenalan alfabet, sang ibu yang menuliskan satu per satu pada kertas atau buku kosong.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="29">4.</td>
<td>menggabungkan suku kata menjadi kata yang <strong>memiliki arti,</strong> misalnya:</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>i  bu</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>cu  ci</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>ca  be</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>ba  ca</td>
</tr>
<tr>
<td width="29">5.</td>
<td>menggabungkan 2 atau 3 kata:</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>i bu    cu ci</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>i bu    cu ci    ca be</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>de di  ba ca</td>
</tr>
<tr>
<td width="29" valign="top">6.</td>
<td>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Fokuskan saja pada 5 huruf vokal dan 3 huruf konsonan tersebut di atas. Jika sudah mulai hafal, baru tambahkan 2 atau 3 huruf konsonan berikutnya. Ibu harus kreatif merangkai suku kata yang membuat anak tetap semangat dan tertarik untuk menyelesaikan kalimat, misalnya:</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>gi  gi      ku da    lu cu</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>ka ki      lu  ka    ke  na     pa  ku</td>
</tr>
<tr>
<td width="29">7.</td>
<td>Mengenalkan <strong>nga ngi ngu nge ngo</strong> dan <strong>nya nyi nyu nye nyo</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="29">8.</td>
<td>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Mengenalkan pertemuan suku kata dengan huruf mati h-i-k-l-m-n-s-r-t-ng</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="29">9.</td>
<td>Merangkai kata yang lebih bervariasi, misal:</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>a  dik     lu pa      man d i</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>ha na     ma kan    ro  t i</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>ra  f i     su  ka      cok  lat</td>
</tr>
<tr>
<td width="29"> </td>
<td>a  was   sa  kit      gi  gi</td>
</tr>
<tr>
<td width="29" valign="top">10.</td>
<td>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Banyak berlatih membaca tulisan di lingkungan sekitar.. di dalam rumah, di jalan raya, di mall, terutama tulisan yang mudah dibaca dan besar2.</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="29" valign="top">11.</td>
<td>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Lakukan kegiatan belajar dengan gembira, penuh canda dan cinta..kalau anak sedang bosan dan mood nya tidak bagus, jangan dipaksa</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanarafi.com/2008/07/belajar-membaca-itu-seru/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hari gini masih merokok??</title>
		<link>http://hanarafi.com/2008/07/hari-gini-masih-merokok/</link>
		<comments>http://hanarafi.com/2008/07/hari-gini-masih-merokok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 05:37:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<category><![CDATA[herbal]]></category>

		<category><![CDATA[olahraga]]></category>

		<category><![CDATA[organik]]></category>

		<category><![CDATA[rokok]]></category>

		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<category><![CDATA[suplemen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanarafi.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini, trend gaya hidup sehat mulai digandrungi, terutama oleh masyarakat ibukota. Hal ini antara lain terlihat dari maraknya komunitas bersepeda ke kantor atau adanya program hari minggu pagi tanpa asap kendaraan bermotor di jalan utama ibukota. Pada minggu pagi, jalan thamrin-sudirman disulap jadi arena berbagai olahraga.
Acara hang out bareng rekan kerja sepulang kantor pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Saat ini, trend gaya hidup sehat mulai digandrungi, terutama oleh masyarakat ibukota. Hal ini antara lain terlihat dari maraknya komunitas bersepeda ke kantor atau adanya program hari minggu pagi tanpa asap kendaraan bermotor di jalan utama ibukota. Pada minggu pagi, jalan thamrin-sudirman disulap jadi arena berbagai olahraga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Acara hang out bareng rekan kerja sepulang kantor pun telah banyak yang dialihkan menjadi olahraga bareng. Mulai dari badminton, tenis, futsal, fitnes, sampai bowling jadi pilihan para eksmud jakarta.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span id="more-4"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pola hidup <em>back to nature</em> pun mulai menjadi primadona. Konsumsi suplemen herbal saat ini lebih diminati daripada sintetis. Pengobatan dengan bahan alami mulai dilirik. Jamu tradisional, ramuan cina, terapi dengan jus sayuran dan buah, sudah bukan barang aneh lagi di ibukota. Pemeliharaan kesehatan dengan bekam, akupuntur, ceragem, sengat lebah, pijat refleksi, totok dan lainnya juga mulai diminati. Bahkan banyak yang mulai memilih2 jenis makanan yang menjadi asupan sehari-hari, misalnya dengan mengkonsumsi beras organik serta buah dan sayur organik. Tak peduli harganya yang lebih tinggi dibandingkan hasil pertanian biasa, yang penting kesehatan lebih utama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Rokok juga sudah menjadi musuh bagi pecinta kesehatan. Kepedulian pada kesehatan dan masa depan anak-anak mereka merupakan salah satu alasan teman-teman saya berhenti merokok dengan seketika. Alasan teman-teman yang lain diantaranya adalah karena mereka mendalami agama dan ada pula karena pernah sakit lumayan parah. Bagi mereka, cinta pada diri sendiri, keluarga dan orang lain dapat mengalahkan kecintaan mereka pada rokok. Jadi, kalau hari gini masih merokok… plis deh..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanarafi.com/2008/07/hari-gini-masih-merokok/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari “ketulusan” anak</title>
		<link>http://hanarafi.com/2008/07/belajar-dari-%e2%80%9cketulusan%e2%80%9d-anak/</link>
		<comments>http://hanarafi.com/2008/07/belajar-dari-%e2%80%9cketulusan%e2%80%9d-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 08:50:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rina</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Romantika Hidup]]></category>

		<category><![CDATA[anak-anak]]></category>

		<category><![CDATA[belajar]]></category>

		<category><![CDATA[dendam]]></category>

		<category><![CDATA[ketulusan hati]]></category>

		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanarafi.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita perhatikan acara bersosialisasi-nya anak2 dengan seksama, pasti kita temukan suatu pelajaran bermakna. Salah satunya adalah, betapa hati mereka tulus dan tidak ada dendam diantara mereka. Biasanya dalam permainan, hampir dipastikan selalu ada saja yang dipertengkarkan. Setelah itu, berlarianlah mereka kepada orang tua masing-masing sambil mengadukan pertengkaran yang baru saja dialami. Bahkan ada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Jika kita perhatikan acara bersosialisasi-nya anak2 dengan seksama, pasti kita temukan suatu pelajaran bermakna. Salah satunya adalah, betapa hati mereka tulus dan tidak ada dendam diantara mereka. Biasanya dalam permainan, hampir dipastikan selalu ada saja yang dipertengkarkan. Setelah itu, berlarianlah mereka kepada orang tua masing-masing sambil mengadukan pertengkaran yang baru saja dialami. Bahkan ada yang sambil menangis tersedu-sedu..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Tanpa disadari, terkadang kita lah yang menyisipkan “pelajaran” dendam pada mereka. Misalnya dengan mengatakan “ya sudah.. jangan main lagi dengan dia, memang anak itu nakal” atau “nanti bales aja, kalo dia mo pinjem mainan, jangan dikasih ya”. Padahal, apa yang terjadi kemudian… disaat hati para orang tua masih dongkol dan emosi.. para anak2 sudah kembali asyik bermain. Yups, tidak sampai 10 menit, mereka sudah saling memaafkan dan bermain kembali. Yang lebih fatal lagi, banyak orang tua yang akhirnya jadi bermusuhan.. padahal para anak2 tidak saling dendam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span id="more-3"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sebagian anak2, bahkan memiliki tingkat ketulusan hati yang lebih dibanding anak2 lainnya. Misalnya saja, pada suatu sore si anak sedih karena tidak boleh mencicipi sedikiiit saja minuman dingin milik temannya saat sedang bermain bersama, kemudian ia pulang ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya. Sang ibu menghibur dengan menunjukkan 1 set minuman dingin lain yang tersimpan di kulkas, dengan harapan si anak tidak bersedih lagi karena ia juga sudah punya minuman dingin walaupun jenis berbeda. Muka si anak langsung berubah menjadi gembira, matanya berbinar-binar, dan senyumnya merekah.. kata2 yang terucap dari mulutnya sangat mengejutkan hati sang ibu. “Ma, boleh ya aku bawa semua.. sekalian buat temen2 yang lagi main” sambil menyebutkan satu per satu teman2nya dan… termasuk temannya yang baru saja membuat dia sedih.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Subhanallah…betapa murninya hati anak2 itu dan jangan sampai kita kotori dengan pelajaran dendam. Betapa malunya hati ini sebagai orang dewasa, yang terlalu mudah sakit hati dengan perkataan dan perbuatan teman sendiri, bahkan terkadang sulit memaafkan kesalahan orang lain. Sungguh suatu pelajaran hidup bermakna dari anak2 kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanarafi.com/2008/07/belajar-dari-%e2%80%9cketulusan%e2%80%9d-anak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
